Pintu KOta

Advertisements

Hasil Potret Olympus Pen

Hasil Potret Olympus Pen

Iman dan Perasaan

                                                                  GambarI

 

      sejak lama banyak orang sudah membuat prediksi berikut ini:”akan tiba waktunya dimana kita akan hidup dalam dunia yang tak membri tmpt bagi perasaan”. Salahsatunya, Aldous Huxley mengatakan, ” Pada waku itu org akan hdp dgn mengingkari apa saja yg dpt mngungkapkan perasaan; keinginan untuk menjalin relasi dengan sesama akan mati”. penyebabnya tak lain adalah teknologi.

      Prediksi ini sekarang sdh terjadi, inilah beberapa tanda-tandanya:

1. orang merasa tdk perlu lagi berbicara langsung lewat telepon, tapi cukup lwt SMS

2. Handphone sudah berubah fungsi menjadi alat hiburan yang amat dikagumi, sehingga muncul slogan”Gadgetku sayang,    keluarga ku malang”.

3. Televisi di ruang keluarga sudah menggantikan kehangatan di antara anggota keluarga.

     ke tiga hal ini sering kali, kita ambaikan dalam kehidupan kita. justru dengan adanya ketiga hal ini kita diingatkan kembali bahwa “secanggih apapun teknologi yg ada tidak dpt menggantikan sebuah perasaan seseorg yg satu dgn seseorg yang lain, krn perasaan yang kita ungkapkan akan berbeda jika kita ungkapkan langsung (Face to Face) bukan “Phone  to Phone”.

    Walaupun perasaaan itu adalah karunia Allah, namun kita tidak dapat membangun kehidupan iman kita hanya dengan mengandalkan perasaan dan mengabaikan yg lain. Mengapa?

1. dosa membuat perasaan kita tidak selalu stabil. karena itulah kita tidak bisa beriman kepada Allah dengan bergantung pada mood (suasana hati)

2. salahsatu tanda kedewasaan dan kematangan rohani ialah bila kita mampu mengeloloa perasaan kita dengan tepat di dalam terang iman. artinya, iman yang harus menerangi perasaan kita bukan sebaliknya!