pengaruh umur dan jenis kelamin C. formicarius terhadap infeksi cendawan Beauverian bassiana

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ubi jalar atau ketela rambat (Ipomoea batatas L.) famili Convolvulaceae. Ubi jalar merupakan penghasil karbohidrat peringkat ke-7 di dunia setelah gandum,beras, kentang, kedelai, dan singkong (FAO 1990). Tanaman ini juga salahsatu tanaman pangan yang di Indonesia.  Menurut Syamsir 2008 ubi jalar memiliki beraneka warna seperti merah, putih, unggu, dan jingga. Salah satunya ubi jalar merah yang mempunyai  sumber utama karbohidrat yang baik untuk penderita diabetes karena kandungan gulanya sederhana, kaya akan pro-vitamin A atau retinol. Keistimewaan ubi ini juga terletak pada kandungan seratnya yang sangat tinggi (pectin, selulosa, hemiselulosa). Ubi jalar bagus untuk mencegah kanker saluran pencernaan dan mengikat zat karsinogen penyebab kanker di dalam tubuh. Selain mengandung karbohidrat yang tinggi dan serat, ubi jalar juga mengandung  vitamin, mineral,  dan antioksidan (fitokimia). Di Amerika Serikat, ubi jalar digunakan sebagai bahan baku dalam industri lem, fermentasi, tekstil, farmasi dan kosmetik. Secara umum, ubi jalar sebenarnya menyimpan potensi sebagai pangan alternatif dan juga menguntungkan dari segi bisnis.
Ubi jalar mudah dibudidayakan namum hal ini masih mendapatkan kendala dalam hal keberadaan hama yang menyerang ubi jalar. Hama yang pada umumnya menyerang ubi jalar yaitu hama boleng atau  Cylas formicarius.
Cylas formicarius, pertama kali diuraikan oleh Fabricius pada tahun 1798 dengan nama Brentus formicarius.  C. formicarius mengalami metamorfosis secara holometabola.  Masyarakat di Indonesia mengenal hama ini dengan sebutan hama boleng atau lanas dikarenakan gejala kerusakan yang disebabkan oleh hama tersebut berupa lubang kecil dan juga gejala lanjutan dari lubang kecil tersebut adalah umbi menjadi inokulum cendawan yang membuat umbi membusuk dan berwarna kehitaman. Umbi yang terserang berasa pahit dan akhirnya membusuk. Walaupun serangan sedikit, namun kalau seluruh umbi terasa pahit maka tidak akan laku dijual (Suharto 2007).  Hama ini menyerang tidak hanya di lapangan tapi juga menimbulkan kerusakan yang cukup nyata di tempat penyimpanan (Capinera 1998).
C. formicarius sebagian besar siklus hidupnya berada di dalam umbi. Siklus hidup hama tersebut sekitar 3 bulan. Menurut Filert et al 1999 siklus hidup C. Formicarius dimana boleng dewasa berupa kumbang yang berwarna hitam-kemerahan mengkilap dan bentuknya seperti semut besar.  Kumbang boleng jantan dan betina dapat dibedakan dari sungutnya.  Pembagian jantan dan betina dibedakan melalui perbedaan dalam hal ukuran dan bentuk ruas antena ke-10. Menurut Borror et al 1996 antena imago jantan pada ruas ke-10 memanjang sedangkan antena betina pada ruas ke-10 menggada. Kumbang dapat hidup selama 30 hari jika pakan tercukupi dan 7 hari jika pakan tidak tercukupi.
C. formicarius dapat dikendalikan baik secara kimia, mekanik, kultur teknis maupun dengan cara biologis.  Pengendalian secara biologis dengan menggunakan agen hayati seperti cendawan entomopatogen. Penggunaan cendawan entomopatogen banyak diaplikasikan terhadap berbagai jenis hama yang menyerang tanaman pertanian. Salah satu cendawan entomopatogen  yang digunakan adalah Beauverian bassiana yang memiliki inang yang cukup luas dan dapat diperbanyak dengan mudah. Cendawan ini tergolong dalam kelas Deuteromycotina (Tanda & Kaya 1993). Penggunaan B. bassianasebagai agen biokontrol telah banyak digunakan dan dikembangkan untuk mengendalikan beberapa hama pertanian (Bari 2006). Cendawan ini mampu bertahan hidup di dalam tanah dalam bentuk konidia atau hifa saprofit (Gottwold & Tedders 1984).    Penempelan konidia pada tubuh serangga pada umunya dibantu oleh angin atau air, sehingga akan terjadi kontak antara konidia dengan permukaan integument dari serangga dalam waktu yang cukup lama untuk bisa berkecambah dan menginfeksi inang.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur dan jenis kelamin C. formicarius terhadap infeksi cendawan Beauverian bassiana.

Manfaat

Manfaat yang dihasilkan adalah dapat memberi informasi tentang yang lebih lanjut dalam pengendalian  imago  C. formicarius dengan menggunakan cendawan Beauverian bassiana sehingga kuantitas dan kualitas dari ubi jalar dapat menjadi baik dan meningkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s