Tanya Alex Brown (kutipan cerita dari Buku GodSpeaks)

” hei Becker, aku pasti melewatkan diskon di toko barang bekas akhir pekan kemarin.”

Candace membuang pandangan dan berjalan bergegas melewati Jill Masters dan teman-temannya. Gelak tawa mengikutinya sampai dia masuk ke ruangan di ujung gang. Justin Thomas, editor koran leader tidak hanya perlu membenahi perwajahannya. kita akan melakukan perubahan besar-besaran. tidak ada lagi editorial yang melelahkan dan rubrik seperti ” murid Bulan Ini ‘.  kita akan memberikan kepada anak-anak SMU Lincoln apa yang mereka inginkan.” Suaranya meninggi.” Kita akan memberi mereka berita yang sebenarnya. tentang hubungan dan isu-isu terkini. kalian semua tahu apa yang aku maksud.”

Candace khawatir dia tahu apa yang dimaksudkan.

“Aku akan memberi kalian semua tugas pribadi. Tapi untuk saat ini, mulainya bertanya kepada dirimu sendiri, akankah cerita ini membuat semua orang mengantre untuk mendapatkan Leader? jika jawabannya tidak, tulislah hal lain. kita akan bertemu lagi besok.”

Setelah rapat staf selesai, Candace berjalan menuju perpustakaan. Pengecut, dia berkata pda dirinya sendiri. Kau hanya tidak ingin menerima satu lagi penghinaan dai Jill Masters.

untuk beberapa alasan, Jill telah menunjukan rasa tidak sukanya kepada Candace. Dia tampak menikmati saat mengkritik baju yang dipakai Candace, rambut, bahkan cara Candace bernapas.

sebenarnya keadaan tidak akan seburuk ini jika Candace hanya berurusan dengan Jill di sekolah. Celakanya, dua minggu yang lalu, Candace dan keluarganya pindah di sebelah rumah Jill.

sore itu, telepon berbunyi dan ibu Candace membuat isyarat kepada Candace untuk mengangkatnya.

“halo?”

“Hei, Candy, aku Justin Thomas.”

“Oh, hai Justin.” Candy? pikirnya.

“Aku melihatmu di rapat tadi siang. Aku punya ide. Bagaimana jika kita mulai membuat kolom tanya-jawab di koran kita? Semua orang pasti akan suka membacanya. Rubrik ini akan memberikan banyak nilai tambah, apa kamu setuju? Jadi, maksudku begini, aku ingin kamu yang mengasuh kolom ini.”

“aku!” pekik Candace. “Kamu bahkan tidak mengenalku. Dan aku belum kenal banyak orang di sekolah,” protesku.

“Justru itu menariknya,” sela Justin. ” Kamu murid baru di sekolah. Tidak ada yang akan menduga. kita akan menggunakan nama samaran dan tak seorang pun tahu, kecuali Bu Wright dan aku.”
“Justin…”

“Aku bahkan sudak memikirkan nama kolom itu. kita bisa memberinya judul, ” Tanya Alex Brown’. Menurutmu Bagaimana? Alex bisa laki-laki atau perempuan, dan Brown adalah nama yang umum. Selain itu, tidak ada nama Alex Brown di sekolah.” Justin menghela napas.

“Bolehkah aku mempertimbangkannya dulu?” tanya Candace lemas.

“Tentu. Daahh, Alex Brown.” Justin menutup telepon.

“Temanmu?” tanya ibu Candace sambil lalu.

“Itu tadi Justin Thomas, editor koran sekolah dan penindas manusia,” jelas Candace murung. “Dia ini kau mengasuh kolom tanya-jawab di koran sekolah.” dia menggelengkan kepala.

“Menurut Ibu, pekerjaan itu mungkin cocok untukmu,” kata ibunya pelan.

“Ibu bercanda, kan?” tanya Candace heran. Maksudku, ya ampun Bu, menyelesaikan masalahku sendiri saja aku ngakk mampu!”

Bu Becker tampak prihatin. ” Masalah apa?bukankah kamu bisa menyesuaikan diri di sekolah barumu?Bertemanlah?”

Candace tertawa. ” Aku baik-baik saja, kok. hanya masalah biasa, itu saja.”

Minggu berikutnya, justin menyodorkan sebuah keranjang plastik penuh surat.

Candace membelalak. ” Sebanyak ini?”

” kita bisa memuat itga surat sekali terbit,” kata justin.

“Pilihlah yang lucu. jangan yang terlalu berat atau serius.”

Candace sedang dalam perjalanan pulang ketika dia perpapasan dengan Jill.

“Hei, masih terlalu awal untuk pakai kostum Halloween,” ejek Jill.

Candace menunduk, memandang rok beludru cokelatnya , dan menghela napas. Dia sangat menyukai baju-baju vintage. Tampaknya itulah yang membuat gadis itu berbeda dengan Jill dan teman-temannya.

Sesampainya di rumah, Candace duduk di meja dan mulai membaca beberapa surat. kebanyakan isi surat itu menggelikan. Dari “masalah-masalah” tersebut, jelah bahwa anak-anak di sekolahnya tidak menganggap serius kolom ” Alex Brown”. Candace mulai santai. jika bantuan seprti inilah yang dibutuhkan teman-temanya, berarti apa yang dikatakan Justin tidak terlalu melenceng jauh.

“Oh tidak!” Seru Candace ketika dia membaca sebuah surat.

Dear Alex Brown,

Apakah kamu percaya kepada Tuhan? Kupikir Dia marah padaku, karena Dia membiarkan orangtuaku bercerai. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Bagaimana menurutmu?

Seseorang yang Sedang Bingung

 

Candace tahu dia tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Justin tidak bisa memecatnya. kemudian Candace mengambil surat di tumpukan terbawah dan mencoba berkonsetrasi untuk membaca surat dari ” Seseorang yang Ingin Sekali Pergi ke Pesta Prom”

Minggu berikutnya, setiap orang membicarakan Alex Brown. Siapa dia? cewek atau Cowok? Sebagian orang berpikir bahwa kolumnisnya adalah Justin. isu itu terus beredar. Surat-surat mulai banyak berdatangan ke kantor Leader.

“Kamu benar-benar hebat, Candy,” kata Justin pada suatu siang.

“Candace.” koreksi Candace dengan setengah hati.

“Kurasa sebaiknya aku juga menjawab beberapa surat yang serius, Justin.”

“tak ada seorang pun yang ingin membaca hal-hal yang serius, Candy.”

Minggu berikutnya, Candace sedang duduk di meja dapur. memilah-milah segunung surat untuk Alex Brown, ketika ibunya masuk ke sana. Di belakangnya ada ibu Jill Masters.

” Ibu dan bu Masters akan keluar minum kopi,” kata Bu Becker pelan

“Oke,” kata Candace. dia melirik Bu Masters. Sangat jelas kalau Bu Masters baru saja menangis.

Candace kembali ke surat-suratnya, dan lagi-lagi matanya tertumbuk pada surat dari “Seseorang yang Sedang Bingung”.

Dia ingin tahu apakah ALex percaya kepada Tuhan. dia berpikir mungkin Tuhan marak kepada dia. Dan dia ingin tahu jawabannya : ” Ya, Alex percaya” dan :Tidak, Alex tidak percaya” Candace membuat keputusan.

“Justin, aku akan menjawab surat ini.” keesokkan harinya,  Candace memperlihatkan srat itu kepada Justin.

Justin membacanya lalu tertawa. ” Kau bisa menjawab surat ini dengan lucu. Oke, lakukan saja.”

” untuk yang ingin aku akan menjawabnya dengan serius,” kaya Candace tegas.

Sre harinya, bu Candace mengatakan bahwa dia akan pergi lagi dengan ibu Jill. ” Candace, berdoalah untuk keluarga Masters. Beberapa minggu yang lalu, Pak Masters meninggalkan keluarganya, dan dia ingin bercerai dengan ibu Jill.”

Candace memandang surat di depannya- surat itu dari “Sesorang yang Sedang Bingung”.

tak salah lagi

dia mengambil surat itu dan menunjukkan kepada ibunya. “Bu, aku memutuskan untuk menjawabnya surat secara langusng.”

Candace melihat isi surat itu lagi, mengingat semua hal yang diucapkan  jill kepadanya selama lebih dari saru bulan, dan menghela napas.

“Tuhan, Engkau pasti akan menolongku untuk menghadapi yang satu ini,” bisik Candace.

Sepuluh menit kemudia, Candace  sudah berada  di depan Jill.

“Ada perlu apa?” tanya Jill, suaranya tenang, tidak menunjukkan sikap permusuhan.

Candace mengeluarkan surat itu. ” Aku datang untuk menjawab surat ini.”

Jill memandangi surat itu, lalu Candace. Dia tampak kaget.” Alex Brown itu kamu?”

” Hanya jika kamulah ” Seseorang yang Sedang Bingung’ itu”.

Jill terdiam beberapa saat, kemudian melangkah mundur.

“Masuklah.” dia tersenyum ragu.

Candace membalas senyumya, tahu bahwa Tuhan akan mengurus selebihnya.

 

” KASIHILAH MUSUHMU DAN BERDOALAH BAGI MEREKA YANG MENGANIAYA KAMU”

Matius 5:44

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s